Kamis, 17 Oktober 2013

RESUME 4 PILAR BELAJAR



RESUME 4 PILAR DALAM BELAJAR (TEORIES OF UNESCO)


1.       “Learning to Know”

Dalam suatu lembaga pendidikan haruslah memprioritaskan keberhasilan sebuah proses pembelajaran, hal tersebut haruslah diaktualisasikan, karena mengingat bahwasanya pendidikan adalah hal yang sangat penting di era yang terus berkembang pesat dalam hal pengetahuan dan teknologi saat ini.

Tahapan awal untuk menciptakan pendidikan yang baik dan berkualitas adalah dengan mengetahui, memahami dan menerapkan pilar-pilar dalam pendidikan, dan learning to know atau belajar untuk mengetahui adalah pilar utama dalam sebuah pendidikan yang mempunyai nilai-nilai dan keyakinan yang menjadikannya sebuah kunci dalam suatu pendidikan.Proses-proses utama yang menjadi kunci dalam hal tersebut, meliputi:

1.      Meninjau dan mengklarifikasi nilai-nilai dan keyakinan
2.      Menyatakan misi dan tujuan pendidikan
3.      Mengembangkan pemahaman tentang bagaimana siswa belajar
4.      Responsif terhadap konteks dalam menentukan apa yang harus dipelajari oleh siswa dalam jangka waktu mereka mengenyam pendidikan di sekolah formal ataupun non formal

Selama mengenyam pendidikan di manapun dan kapanpun proses itu terjadi, secara tidak langsung telah mengajarkan  kita untuk memahami tentang sifat manusia, alam, dan berbagai kecerdasan manusia lainnya. Intinya dengan belajar kita mengetahui ilmu yang tidak ketahui sebelumnya , menjadi tahu dan paham.

2.      “Learning to Do”

Pilar yang kedua Learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu) adalah sebuah aspek psikomotorik yang harus diberikan kepada anak didik.Aspek psikomotorik ini dapat diterjemahkan dalam segala kegatan belajar – mengajar. Proses pembelajaran dalam konsep learning to do  adalah peserta didik harus mau dan mampu (berani) mengaktualisasi keterampilan yang dimilikinya, selain bakat dan minat yang telah dimiliki sejak awal. Berani mengaktualisasi minat dan bakatnya, berarti peserta didik diarahkan untuk menyadari kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Kelebihan yang dimiliki harus senantiasa diasah untuk meningkatkan kemanfaatannya (menambah keterampilannya) dan juga pengetahuan akan kekurangan yang dimiliki memberikan sebuah tantangan untuk memperbaiki sehingga peserta didik nantinya akan menjadi manusia yang lebih unggul dimasa yang akan datang.

3.      “Learning to Be”
Pilar yang ketiga merupakan pilar yang lebih mengarahkan peserta didik untuk bisa mengetahui ingin menjadi apa ia akan tumbuh dan berkembang, essensinya adalah pencarian jati dirinya sebagai individu. Bahwasannya  Learning to be mengandung arti bahwa belajar adalah proses dari pembentukan manusia yang menjadi jati dirinya sendiri. Konsep ini diterapkan agar setiap peserta didik dapat bertanggung jawab sebagai individu sekaligus sebagai anggota masyarakat. Setiap konsep pilar pendidikan satu sama lain berkesinambungan, setah peserta didik mendapatkan pengetahuan yang luas dalam belajar, dan dapat mengaplikasikannya dengan baik dalam menghasilkan sebuah karya, maka peserta didik akan mampu menjadi manusia yang seutuhnya. Yang dapat berguna bagi dirinya dan orang lain dalam masyarakat. Sehingga ketiga hal ini menjadi pondasi untuk pilar ke empat yaitu belajar untuk hidup bersama didalam masyarakat.

4.      “Learning to Live Together”

Pilar yang terakhir merupakan pilar yang menekankan peserta didik kepada bentuk pengaplikasian belajar di tengah – tengah masyrakat atau dalam bahasa Inggris dikatakan sebagai action. Learning to live together dalam bahasa Indonesia artinya belajar untuk bisa hidup bersama , maksudnya yaitu dengan terus belajar kita akan terus mendapatkan wawasan yang baru mengenai sesuatu hal kita tidak ketahui sebelummnya.
·         Cara Mencapai Kehidupan Bersama
Dalam mencapai kehidupan bersama diperlukan usaha-usaha, cara-cara dan kunci-kunci yang lebih menonjolkan sifat kebersamaan atau rasa kepedulian social yang tinggi. Karena dalam mencapai kehidupan bersama rasa kebersamaan tersebut harus diawali dari individu terlebih dahulu sebelum akhirnya kepada ruang lingkup yang lebih luas. Setiap individu harus memulai usaha sosialisasi dan rasa kebersamaan di dalam kehidupan, sehiingga kehidupan bersama dapat didapatkan dengan mudah. Usaha tersebut yaitu dengan menumbuhkan rasa kebersamaan dan saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Dan untuk memasuki abad baru atau dunia “kita” bersama-sama maka memerlukan kunci di bawah ini, yaitu :
a.       Memahami diri sendiri, satu sama lain dan dunia
b.      Menggunakan teknologi baru secara kritis
c.       Mencari tempat kita di masyarakat
d.      Membangun dunia lebih layak dan lebih adil
Dan dalam mencapai keberhasilan yang diinginkan, yaitu dapat hidup bersama tanpa adanya rasa keberatan atau ketidaknyamanan pada diri sendiri pastilah terdapat masalah-masalah demi terciptanya kehidupan bersama tersebut, dan amsala-masalah itu di antaranya :
a.       Menemukan orang lain dengan menemukan diri sendiri
b.      Mengadopsi perspektif kelomppok etnis, agama dan social lainnya
c.       Berpartisipasi dalam proyek dengan orang-orang dari kelompok
d.      Mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan ketegangan dan konflik.


Minggu, 06 Oktober 2013

Resume Prinsip Belajar dan Pembelajaran


Prinsip - prinsip Belajar dan Pembelajaran
Sebelum saya membahas mengenai prinsip – prinsip belajar dan pembelajaran , terlebih dahulu saya akan menjelaskan pengertiannya terlebih dahulu. Apa itu prinsip?, apa itu belajar dan apa itu pembelajaran? . Prinsip adalah ketentuan yang mengikat yang menjadikan dasar untuk berpikir. Belajar adalah suatu proses untuk merubah tingkah laku individu dengan cara berinteraksi dengan lingkungan , dimana proses yang terjadi ini sudah direncanakan dan disengaja. Sedangkan Pembelajaran merupakan proses belajar dan mengajar , dimana dalam proses tersebut terjadi sebuah interaksi antara pendidik dengan peserta didik dan sumber belajar pada lingkungan belajar.
A.    Prinsip Pembelajaran
Dalam sebuah pembelajaran terdapat unsur – unsur yang mempengaruhi proses pembelajaran tersebut . Unsur – unsur tersebut antara lain :
1.    Interaksi
2.    Peserta didik
3.    Pendidik
4.    Sumber Belajar
5.    Lingkungan
Ke-lima unsur tadi itulah yang mempengaruhi jalannya proses pembelajaran. Apabila salah satu unsur di atas itu dihilangkan maka tidak bisa dikatakan sebagai proses pembelajaran. Contohnya , apabila dalam pembelajaran tidak ada interaksi antara pendidik dengan peserta didik, proses belajar dan mengajar itu tidak akan terjadi , begitu pun unsur – unsur yang lainnya.
Kegiatan pembelajaran merupakan bagian yang paling penting dalam implementasi kurikulum. Untuk mengetahui efektifitas dan efesiensi pembelajaran dapat diketahui melalui kegiatan pembelajaran. Untuk itu dalam melaksanakan pembelajaran seyogyanya seorang pendidik tahu bagaimana membuat kegiatan pembelajaran itu berjalan dengan baik dan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

Prinsip-prinsip pembelajaran merupakan bagian penting yang perlu diketahui oleh seorang pendidik, dengan memahami prinsip-prinsip pembelajaran, seorang pendidik dapat membuat suatu acuan dalam pembelajaran sehingga pembelajaran akan berjalan lebih efektif serta dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Prinsip-prinsip pembelajaran yang perlu diketahui adalah :

1. Prinsip perhatian dan Motivasi
Dalam proses pembelajaran, perhatian memiliki peranan yang sangat penting sebagai langkah awal dalam memicu aktivitas-aktivitas belajar. Motivasi berhubungan erat dengan minat, peserta didik yang memiliki minat lebih tinggi pada suatu mata pelajaran cenderung lebih memiliki perhatian yang lebih terhadap mata pelajaran tersebut akan menimbulkan motivasi yang lebih tinggi dalam belajar.motivasi dalam belajar merupakan hal yang sangat penting juga dalam pelaksanaan proses pembelajaran.

2. Prinsip Keaktifan
Belajar pada hakekatnya adalah proses aktif dimana seseorang melakukan kegiatan secara sadar untuk mengubah suatu perilaku, terjadi kegiatan metrespon terhadap setiap pembelajaran.

3. Prinsip Keterlibatan Langsung / Berpengalaman
Prinsip ini berhubungan prinsip aktivitas, bahwa setiap individu harus terlibat secara langsung untuk mengalaminya, bahwa setiap kegiatan pembelajaran harus melibatkan diri ( setiap individu ) terjun mengalaminya.

4. Prinsip Pengulangan
Teori yang dapat dijadikan sebagai petunjuk pentingnya prinsip pengulangan dalam belajar, antara lain bisa dicermati dari dalil-dalil belajar yang dikemukan oleh Edward L. Thorndike ( 1974 – 1949 ) tentang law of lerning, yaitu “ law of effect, law of exercise and law of readiess “

5. Prinsip Tantangan
Implikasi lain adanya bahan belajar yang dikemas dalam suatu kondisi yang menantang seperti mengandung masalah yang perlu dipecahkan, peserta didik aka tertantang untuk mempelajariny. Dengan kata lain pembelajaran yang memberi kesempatan pada peserta didik untuk turut menemukan konsep-konsep, prinsip-prinsip dan generalisasi akan menyebabkan peserta didik berusaha mencari dean menemukan konsep-konsep, prinsip-prinsip dab generalisasi tersebut.

6. Prinsip Balikan dan Penguatan
Peserta didik akan belajar lebih semangat apabila mengetahui dan mendapat hasil yang baik. Apalagi hasil yang baik, merupakan balikan yang menyenangkan dan berpengaruh baik bagi usaha belajar selanjutnya. Balikan yang segera diperoleh peserta didik setelah belajar melalui pengamatan melalui metode-metode pembelaran yang menantang, seperti Tanya jawab, diskusi, eksperimen, metode penemuan dan yang sejenisnya akan membuat peserta didik terdorong untuk belajar lebih giat dan bersemangat.

7. Prinsip perbedaan Individual
Perbedaan individual dalam belajar, yaitu bahwa proses belajar yang terjadi pada setiap individu berbeda satu dengan yang lain baik secara fisik maupun psikis, untuk itu dalam proses pembelajaran mengandung implikasi bahwa setiap peserta didik harus dibantu untuk memahami kekuatan dan kelemahan dirinya dan selanjutnya mendapat perlakuan dan pelayanan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan peserta didik itu sendiri.





B.    Prinsip Belajar

Sama halnya dengan pembelajaran , di dalam aktivitas belajar pun ada beberapa prinsip yang perlu kita ketahui , antara lain :

1.Belajar merupakan bagian dari perkembangan.
2.Belajar berlangsung seumur hidup.
3.Keberhasilan belajar dipengaruhi faktor bawaan , lingkungan , kematangan , serta usaha dari setiap individu sendiri.
4.Belajar mencakup seemua aspek kehidupan.
5.Kegiaatan belajar berlangsung pada setiap tempat dan waktu.
6.Belajar berlangsung dengan guru atau tanpa guru.
7.Perbuatan belajar bevariasi , dari mulai yang sederhana hingga yang komplek.
8.Dalam belajar terjadi adanya hambatan – hambatan.
9.Kegiatan diperlukan bantuan atau bimbingan dari orang lain.

Adapun dalam belajar terdapat empat pilar belajar , dimana dengan mengetahui ke-empat pilar ini kita dapat mengetahui apa saja yang harus kita pelajari , empat pilar tersebut antara lain :

1.Belajar mengetahui (Learning to know)
Artinya dengan belajar kita dapat mengetahui sesuatu yang hal yang asalnya kita tidak mengetahuinya hingga akhirnya mengetahuinya. Jadi dengan belajar kita dapat mengetahui hal –hal yang baru dan menambah wawasan kita.
   
2.Belajar untuk berkarya (Learning to do)
Artinya belajar untuk bagaimana kita semestinya berbuat , dengan belajar untuk berbuat ,  kita dapat berprilaku sesuai dengan kondisi tertentu. Mampu menempatkan diri dengan keadaan yang ada , sehingga langkah yang kita ambil akan lebih terarah.

3.Belajar hidup bersama (Learning to live together)
Belajar hidup bersama artinya dalam kehidupan sehari – hari kita harus bisa berbaur dengan masyarakat di lingkungan sekitar . Dengan belajar kita bisa bersosialisasi dengan masyrakat.

4.Belajar berkembang (Learn to be)
Ketika kita belajar , secara tidak langsung diri kita ini telah berkembang , dengan belajar kita dapat berkembang secara utuh dan mampu menjadikan diri kita sesuai dengan keinginan.



Dalam proses belajar terdapat juga beberapa aturan bagi guru/pendidik yang berfungsi untuk menyalurkan ilmunya ketika proses pembelajaran . Beberapa aturan untuk guru/pendidik (The Roles of a Teacher) antara lain :

1.    The Teacher as Manager.
Guru sebagai pengajar ahli (ahli di bidang mendidik peserta didiknya).
2.    The Teacher as Manager.
Sebagai pengelola (mengelola jalannya pembelajaran).
3.    The Teacher as Leader.
Sebagai pemimpin dalam kelas yang memberi pengaruh.
4.    The Teacher as Counselor.
Sebagai penasihat dan pemberi bimbingan.
5.    The Teacher as Enviromental Engineer.
Sebagai media untuk merekayasa lingkungan (mempermudah pembelajaran).
   
Ada beberapa macam variasi dalam belajar diantaranya yaitu,
Five Varieties of Learning (Gagne and Brigss)
Learning Capabillty    Performance
Verbal Information    Stating Information
Attitudes    Choosing to behave in particular way
Intellectual Skills    Using concepts and rules to solve problem ;responding to classes of stimuli as distint from recalling specific examples
Motor Skills    Excecuting bodily movements smootly and in proper sequence
Cognitive Strategy    Originating novel solutions to problems; utilizing various means for controlling one’s thingking/learning provcessis


Faktor - faktor yang mempengaruhi belajar dan pembelajaran

 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar dan Pembelajaran
Pembelajaran merupakan suatu upaya untuk membelajarkan siswa. Sedangkan belajar merupakan suatu kegiatan yang menghasilkan kemampuan baru yang bersifat permanen pada diri siswa. Dengan memandang belajar dan pembelajaran sebagai suatu sistem, maka faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dan pembelajaran dapat klasifikasikan menjadi 3 bagian utama, antara lain  :

*Faktor Internal (Dari dalam)*
Faktor Internal merupakan kondisi seseorang pada situasi awal (sebelum kegiatan  belajar dan pembelajaran berlangsung). Keberhasilan  atau kegagalan belajar sangat tergantung pada masukan mentah ini. Kondisi subjek ini meliputi:

1. Kondisi Fisiologis
Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Kondisi tubuh yang lemah apalagi disertai sakit kepala misalnya, dapat menurunkan kualitas kognitif sehingga materi yang dipelajarinya pun kurang dipahami.
Kondisi organ-organ khusus siswa, seperti tingkat kesehatan, indera pendengaran dan indera penglihatan, juga sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam  menyerap  informasi dan pengetahuan, khususnya yang disajikan di  kelas.
(Tanwey Gerson Ratumanan, 2002: 10-11)

2. Kondisi Psikologis
Banyak  faktor  yang termasuk kondisi psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan  kualitas hasil belajar siswa, diantaranya adalah sebagai berikut:

a.      Intelegensi Siswa
Intelegensi dapat diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan cara yang tepat (Reber, 1988). Jadi, intelegensi sebenarnya bukan persoalan kualitas otak saja, melainkan juga kualitas organ-organ tubuh lainnya. Akan tetapi, memang harus diakui bahwa peran otak dalam hubungannya dengan intelegensi manusia lebih menonjol daripada peran organ-organ tubuh lainnya Karena otak merupakan “menara pengontrol” hampir seluruh aktivitas manusia.
Tingkat kecerdasan atau intelegensi (IQ) siswa sangat menetukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Ini bermakna, semakin tinggi kemampuan intelegensi seorang siswa maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses, Sebaliknya, semakin rendah kemempuan intelegensi seorang siswa maka semakin kecil peluangnya untuk memperoleh sukses.

b.      Sikap
Sikap dapat didefinisikan dengan berbagai cara dan setiap definisi itu berbeda satu sama lain. Trow mendefinisikan sikap sebagai suatu kesiapan mental atau emosional dalam beberapa jenis tindakan pada situasi yang tepat. Di sini Trow lebih menekankan pada kesiapan mental atau emosional seseorang terhadap sesuatu objek. Sementara itu Allport seperti dikutip oleh Gable mengemukakan bahwa sikap adalah suatu kesiapan mental dan saraf yang tersusun melalui pengalaman dan memberikan pengaruh langsung kepada respons individu terhadap semua objek atau situasi yang berhubungan dengan objek itu.
Definisi sikap menurut Allport ini menunjukan bahwa sikap itu tidak muncul seketika atau dibawa lahir, tetapi disusun dan dibentuk melalui pengalaman serta memberikan pengaruh langsung kepada respons seseorang. Harlen mengemukakan bahwa sikap merupakan kesiapan atau kecenderungan seseorang untuk bertindak dalam menghadapi suatu objek atau situasi tertentu.
(Djaali, 2008: 114)

c.       Minat
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa senang. Jadi berbeda dengan perhatian, karena perhatian sifatnya sementara (tidak dalam waktu yang lama) dan belum tentu diikuti dengan perasaan senang, sedangkan minat selalu diikuti dengan perasaan senang dan dari situ diperoleh kepuasan.
Minat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya. Bahan pelajaran yang menarik minat siswa, lebiih mudah dipelajari dan disimpan, karena minat menambah kegiatan belajar.
Jika terdapat siswa yang kurang berminat terhadap belajar, dapatlah diusahakan agar ia mempunyai minat yang lebih besar dengan cara menjelaskan hal-hal yang menarik dan berguna bagi kehidupan serta hal-hal yang berhubungan dengan cita-cita serta kaitannya dengan bahan pelajaran yang dipelajari itu.
(Slameto, 2003: 57)

d.      Motivasi
Motivasi menurut Sumadi Suryabrata adalah keadaan yang terdapat dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu guna pencapaian suatu tujuan. Sementara itu Gates dan kawan-kawan mengemukakan bahwa motivasi adalah suatu kondisi fisiologis dan psikologis yang terdapat dalam diri seseorang yang mengatur tindakannya dengan cara tertentu. Adapun Greenberg menyebutkan bahwa motivasi adalah proses membangkitkan, mengarahkan, dan memantapkan prilaku arah suatu tujuan. Dari tiga definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah kondisi fisiologis dan psikologis yang terdapat dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai suatu tujuan (kebutuhan). (Djaali, 2008: 101)

e.       Bakat
Secara umum, bakat (aptitude) adalahkemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang (Chaplin, 1972; Reber,1988). Dengan demikian, sebetulnya setiap orang pasti memiliki bakat dalam arti berpotensi untuk berprestasi sampai ke tingkat tertentu sesuai dengan kapasitas masing-masing.
Dalam perkembangan selanjutnya, bakat kemudian diartikan sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan. Seseorang yang berbakat pada bidang Matematika, akan jauh lebiih mudah menyerap informasi, pengetahuan, dan keterampilan yang berhubungan dengan bidang tersebut dibanding dengan siswa lainnya. Inilah yang kemudian disebut bakat khusus (specific aptitude) yang konon tidak dapat dipelajari karena merupakan karunia inborn (pembawaan sejak lahir). (Muhibbin Syah, 2003: 150)

f.       Gaya Kognitif
Setiap orang memiliki cara-cara sendiri yang disukainya dalam menyusun apa yang dilihat, diingat, dan dipikirkannya. Perbedaan-perbedaan antara pribadi yang menetap dalam cara menyusun dan mengolah informasi serta pengalaman-pengalaman ini dikenal sebagai gaya kognitif. Gaya kognitif merupakan variabel penting yang mempengaruhi pilihan-pilihan dalam bidang akademik, bagaimana siswa belajar, serta bagaimana siswa dan guru berinteraksi dalam kelas. (Slameto, 2003: 160)
*Faktor Instumental (Fasilitas)*
Faktor instrumental menunjukkan kualifikasi serta sarana yang diperlukan untuk dapat berlangsungnya kegiatan belajar dan pembelajaran. Masukan instrumental meliputi berbagai komponen seperti guru (kemampuan/ kompetensi, kesiapan, sikap, minat, dan sebagainya), kurikulum, metode, evaluasi ( proses dan hasil belajar), sarana prasarana (ruangan, alat  bantu belajar, buku teks, buku penunjang dan sebagainya), dan sebagainya. (Tanwey Gerson Ratumanan, 2002: 11)
*Faktor Eksternal (Lingkungan)* 
Faktor lingkungan merupakan masukan yang berasal dari lingkungan sekitar siswa. Yang termasuk dalam masukan lingkungan ini adalah

a.      Lingkungan Fisik
Faktor-faktor yang termasuk lingkungan fisik adalah cuaca, keadaan udara, ruangan, cahaya, kesehatan lingkungan, dan waktu belajar yang digunakan siswa. Faktor-faktor ini dipandang turut menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa.
Mengenai waktu yang disenangi untuk belajar seperti pagi atau sore hari, seorang ahli bernama J. Biggers (1980) berpendapat bahwa belajar pagi hari lebih efektif daripada belajar pada waktu-waktu lainnya. Namun, menurut penelitian beberapa ahli learning style (gaya belajar), hasil belajar itu tidak tergantung pada waktu secara mutlak, tetapi bergantung pada pilihan waktu yang cocok dengan kesiapsiagaan siswa (Dunn, dkk., 1986).

b.      Lingkungan Sosial
Yang termasuk lingkungan sosial adalah pergaulan siswa dengan orang lain di sekitarnya, sikap dan perilaku orang di sekitar siswa dan sebagainya. Lingkungan sosial yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar ialah orang tua dan keluarga siswa itu sendiri. Sifat-sifat orang tua, praktik pengelolaan keluarga, ketegangan keluarga, semuanya dapat memberi dampak baik ataupun buruk terhadap kegiatan belajar dan hasil yang dicapai oleh siswa.
Kondisi masyarakat di lingkungan  siswa yang kumuh, anak-anak penganggur dan serba kekurangan akan sangat mempengaruhi aktivitas belajar siswa. Paling tidak, siswa tersebut akan menemukan kesulitan ketika  memerlukan teman belajar atau berdiskusi ataupun meminjam alat-alat belajar tertentu yang kebetulan belum dimilikinya. (Muhibbin Syah, 2003: 152-154)
c.      Lingkungan Kultural
Yang termasuk lingkungan kultural adalah kebiasaan dan tata cara pergaulan masyarakat di sekitar siswa. Setiap daerah memiliki kebiasaan dan tata cara pergaulan yang berbeda-beda. Hal ini, dapat mempengaruhi kegiatan belajar siswa.

Referensi :
http://sainsmatika.blogspot.com/2012/03/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-belajar.html

Rabu, 02 Oktober 2013

Mr.Bean Masuk Islam

Film Penistaan Nabi Muhammad Mengantarkan 'Mr. Bean' Masuk Islam

INGGRIS (voa-islam.com) – Alhamdulillah, segala makar yang dibangun kaum Islamphobia justru mengantarkan Mr. Bean pada hidayah dan masuk Islam.
Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Ali-Imran: 54) 
Beberapa jaringan situs berita di jejaring sosial dan situs-situs lain pada hari Selasa (01/10/13) berbagi berita tentang keislaman komedian internasional Rowan Atkinson atau yang lebih dikenal Mr. Bean.
Pelawak terkenal Mr.Bean mengejutkan dunia keartisan dengan mengumumkan bahwa ia telah masuk Islam. 
Situs Shada Biladi mengutip perkataan Mr.Bean yang menjelaskan bahwa film yang melecehkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan alasan utama yang mendorong dia untuk mengetahui Islam. Tanpa ragu, Mr Bean di channel media mengangkat satu jari mengisyaratkan syahadat.
Masih menurut situs itu, Syaikh Rasyid Al-Ghannushi mengirimkan pesan ucapan selamat kepada Mr Bean dan mendoakannya agar tetap istiqomah di atas kebenaran. Sebelumnya Syaikh Al-Ghannushi memiliki hubungan dengan Mr Bean di London. 
film yang melecehkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan alasan utama yang mendorong dia untuk mengetahui Islam. Tanpa ragu, Mr Bean di channel media mengangkat satu jari mengisyaratkan syahadat.
Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya". (Ash-Shaaf 8)
Profil Rowan Sebastian Atkinson
Rowan lahir 6 Januari 1955, ia adalah seorang pelawak, pemeran, dan penulis Inggris, terkenal karena film seri televisi Blackadder dan Mr. BeanMenurut The Observer, ia adalah salah satu dari 50 orang terlucu di Inggris. Ia dilahirkan di Consett, County Durham pada 1955dari keluarga Eric Atkinson, seorang petani dan direktur perusahaan, dan istrinya Ella May (née Bambridge). Kakaknya adalah politikus Rodney Atkinson. 
Ia bersekolah di Durham Choristers School, kemudian St Bees School, dan mempelajari teknik elektro di Newcastle University. Ketika di sekolah, ia sekelas dengan mantan perdana menteri Tony Blair. Ia kemudian meraih gelar M.Sc. dari Queens College, Oxford.
Siapa Syeikh Rashid?
Syeikh Rashid adalah seorang ulama pejuang dan revolusioner Tunisia. Pengaruh pemikiran Sayyid Qutb dan Hasan al-Banna, membuatnya bersama Omar al-Bashir, Presiden Sudan menjadi dua tokoh Ikhwanul Muslimin di utara Afrika dan Tunisia. 
SYEIKH Rashid al-Ghannushi disebut-sebut sebagai sahabat yang membuat Rowan Atkinson atau lebih dikenal dengan sebutan Mr Bean.
Syeikh Rashid adalah seorang ulama di Tunisia dan pengikut Ikhwanul muslimin dan satu pemikiran dengan Sayyid Qutb dan Hasan al-Banna 
Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya. (Al-Anfaal: 30) 
[ikhlas/usamah/youm/dbs]

Selasa, 01 Oktober 2013

Definisi Pembelajaran

Pengertian Pembelajaran

Apa itu "Pembelajaran"???
   Pembelajaran secara singkatnya adalah proses terjadinya belajar dan mengajar . Dimana pada konteksnya terjadi interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada  lingkungan belajar .
   Pembelajaran mengandung makna adanya kegiatan mengajar dan belajar, di mana pihak yang mengajar adalah guru dan yang belajar adalah siswa yang berorientasi pada kegiatan mengajarkan materi yang berorientasi pada pengembangan pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa sebagai sasaran pembelajaran. Dalam proses pembelajaran akan mencakup berbagai komponen lainnya, seperti media, kurikulum, dan fasilitas pembelajaran.
 
Maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pembelajaran merupakan suatu proses kegiatan yang memungkinkan guru dapat mengajar dan siswa dapat menerima materi pelajaran yang diajarkan oleh guru secara sistematik dan saling mempengaruhi dalam kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang diinginkan pada suatu lingkungan belajar.
  
Proses pembelajaran merupakan proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran/media tertentu ke penerima pesan. Pesan, sumber pesan, saluran/ media dan penerima pesan adalah komponen-komponen proses komunikasi. Proses yang akan dikomunikasikan adalah isi ajaran ataupun didikan yang ada dalam kurikulum,  sumber pesannya bisa guru, siswa, orang lain ataupun penulis buku dan media.

Referensi

Aunurrahman. (2010). Belajar dan Pembelajaran. Bandung : Penerbit AlfabetaSlameto. (2003). Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT. Rineka  Cipta.

 (Online).http://ichaledutech.blogspot.com/2013/03/pengertian-belajar-pengertian.html

Definisi Mengajar

Pengertian Mengajar

Apa itu "Mengajar"???
Mengajar pada prinsipnya adalah membimbing peserta didik dalam kegiatan mengajar yang mengandung pengertian bahwa mengajar merupakan usaha mengorganisasikan lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajaran, sehingga terjadi proses belajar mengajar. 

Menurut Sardiman (2003:45): Mengajar diartikan sebagai suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak, sehingga terjadi proses belajar. Atau dikatakan , mengajar sebagai upaya menciptakan kondisi yang kondusif untuk berlangsungnya kegiatan belajar bagi para siswa.

Mengajar adalah segala upaya yang disengaja dalam rangka memberi kemungkinan bagi siswa untuk terjadinya proses belajar sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan. Karenanya belajar merupakan suatu proses yang kompleks. Tidak hanya sekedar menyampaikan informasi dari guru kepada siswa. Banyak kegiatan maupun tindakan yang harus dilakukan, terutama bila diinginkan hasil belajar lebih baik pada seluruh peserta didiknya.

Menurut Raka Joni (dalam Sardiman , 2003:54) : Mengajar adalah menyediakan kondisi optimal yang merangsang serta mengerahkan kegiatan belajar anak didik untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan nilai atau sikap yang dapat membawa perubahan tingkah laku maupun pertumbuhan sebagai pribadi. 

Tujuan mengajar adalah agar pengetahuan yang disampaikan itu dapat dipahami peserta didik. Guru yang berhasil mengajar di suatu sekolah belum tentu berhasil di sekolah lain. Itulah sebabnya ada pendapat bahwa mengajar itu adalah suatu “seni” tersendiri.

Sumber referensi : http://wawan-junaidi.blogspot.com