Rabu, 11 Desember 2013
Taksonomi Bloom
Taksonomi Bloom
Taksonomi
berasal dari bahasa Yunani tassein berarti untuk mengklasifikasi dan nomos yang
berarti aturan. Taksonomi berarti klasifikasi berhirarkhi dari sesuatu atau
prinsip yang mendasari klasifikasi. Taksonomi Bloom adalah Penggolongan
(klasifikasi) tujuan pendidikan. Taksonomi ini pertama kali disusun oleh Benjamin S. Bloom pada tahun 1956.
Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain (ranah,
kawasan) dan setiap domain tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang
lebih rinci berdasarkan hirarkinya. Ada 3 kawasan (domain) dalam tujuan
pendidikan dalam taksonomi bloom ini, yaitu (1) kawasan kognitif, (2) kawasan
afektif, dan (3) kawasan psikomotor.
Dari ke-3
kawasan dari Taksonomi Bloom tersebut terdapat sub-sub yang memperjelas ketiga
kawasan tersebut, di bawah ini terdapat penjelesan dari ketiga kawasan Bloom
dan sub-kawasannya.
A. Kawasan Kognitif (Cognitive)
Kawasan kognitif
merupakan
kawasan yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti
pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir, yang terdiri dari :
1. Pengetahuan
(knowledge) atau disebut C1
Pengetahuan merupakan aspek kognitif yang paling rendah tetapi paling mendasar. Dengan pengetahuan individu dapat mengenal dan mengingat kembali suatu objek, ide prosedur, konsep, definisi, nama, peristiwa, tahun, daftar, rumus, teori, atau kesimpulan.
Pengetahuan merupakan aspek kognitif yang paling rendah tetapi paling mendasar. Dengan pengetahuan individu dapat mengenal dan mengingat kembali suatu objek, ide prosedur, konsep, definisi, nama, peristiwa, tahun, daftar, rumus, teori, atau kesimpulan.
2. Pemahaman
(comprehension)
atau disebut C2
Pemahaman atau dapat dijuga disebut dengan istilah mengerti merupakan kegiatan mental intelektual yang mengorganisasikan materi yang telah diketahui. Temuan-temuan yang didapat dari mengetahui seperti definisi, informasi, peristiwa, fakta disusun kembali dalam struktur kognitif yang ada. Temuan-temuan ini diakomodasikan dan kemudian berasimilasi dengan struktur kognitif yang ada, sehingga membentuk struktur kognitif baru
Pemahaman atau dapat dijuga disebut dengan istilah mengerti merupakan kegiatan mental intelektual yang mengorganisasikan materi yang telah diketahui. Temuan-temuan yang didapat dari mengetahui seperti definisi, informasi, peristiwa, fakta disusun kembali dalam struktur kognitif yang ada. Temuan-temuan ini diakomodasikan dan kemudian berasimilasi dengan struktur kognitif yang ada, sehingga membentuk struktur kognitif baru
3. Penerapan
(application) atau disebut C3
Menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah atau menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang dikatakan menguasai kemampuan ini jika ia dapat memberi contoh, menggunakan, mengklasifikasikan, memanfaatkan, menyelesaikan dan mengidentifikasi hal-hal yang sama. Contoh, dulu ketika pertama kali diperkenalkan kereta api kepada petani di Amerika, mereka berusaha untuk memberi nama yang cocok bagi alat angkutan tersebut. Satu-satunya alat transportasi yang sudah dikenal pada waktu itu adalah kuda. Bagi mereka, ingat kuda ingat transportasi. Dengan pemahaman demikian, maka mereka memberi nama pada kereta api tersebut dengan iron horse (kuda besi). Hal ini menunjukkan bagaimana mereka menerapkan konsep terhadap sebuah temuan baru.
Menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah atau menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang dikatakan menguasai kemampuan ini jika ia dapat memberi contoh, menggunakan, mengklasifikasikan, memanfaatkan, menyelesaikan dan mengidentifikasi hal-hal yang sama. Contoh, dulu ketika pertama kali diperkenalkan kereta api kepada petani di Amerika, mereka berusaha untuk memberi nama yang cocok bagi alat angkutan tersebut. Satu-satunya alat transportasi yang sudah dikenal pada waktu itu adalah kuda. Bagi mereka, ingat kuda ingat transportasi. Dengan pemahaman demikian, maka mereka memberi nama pada kereta api tersebut dengan iron horse (kuda besi). Hal ini menunjukkan bagaimana mereka menerapkan konsep terhadap sebuah temuan baru.
4.
Penguraian (analysis) atau disebut C4
Menentukan bagian-bagian dari suatu masalah dan
menunjukkan hubungan antar-bagian tersebut, melihat penyebab-penyebab dari
suatu peristiwa atau memberi argumen-argumen yang menyokong suatu pernyataan.
5.
Memadukan (synthesis) atau disebut C5
Menggabungkan,
meramu, atau merangkai berbagai informasi menjadi satu kesimpulan atau menjadi
suatu hal yang baru. Kemampuan berfikir induktif dan konvergen merupakan ciri
kemampuan ini. Contoh: memilih nada dan irama dan kemudian manggabungkannya
sehingga menjadi gubahan musik yang baru, memberi nama yang sesuai bagi suatu
temuan baru, menciptakan logo organisasi.
6.
Penilaian (evaluation) atau disebut C6
Mempertimbangkan,
menilai dan mengambil keputusan benar-salah, baik-buruk, atau bermanfaat – tak
bermanfaat berdasarkan kriteria-kriteria tertentu baik kualitatif maupun kuantitatif.
B. Kawasan
Afektif (Affevtive)
Kawasan afektif
yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek emosional, seperti perasaan, minat,
sikap, kepatuhan terhadap moral dan sebagainya, terdiri dari :
1. Penerimaan
(Receiving)
Kesediaan untuk
menyadari adanya suatu fenomena di lingkungannya. Dalam pengajaran bentuknya
berupa mendapatkan perhatian, mempertahankannya, dan mengarahkannya.
2. Tanggapan (Responding)
Memberikan
reaksi terhadap fenomena yang ada di lingkungannya. Meliputi persetujuan,
kesediaan, dan kepuasan dalam memberikan tanggapan.
3. Penghargaan (Valuing)
Berkaitan dengan
harga atau nilai yang diterapkan pada suatu objek, fenomena, atau tingkah laku.
Penilaian berdasar pada internalisasi dari serangkaian nilai tertentu yang
diekspresikan ke dalam tingkah laku.
4. Pengorganisasian (Organization)
Memadukan
nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan konflik di antaranya, dan membentuk
suatu sistem nilai yang konsisten.
5. Karakterisasi (characterization)
Memiliki sistem nilai yang mengendalikan
tingkah-lakunya sehingga menjadi karakteristik gaya-hidupnya.
C. Kawasan
Psikomotor (Psychomotor)
Kawasan
psikomotor yaitu kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang
melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular system) dan
fungsi psikis. Kawasan ini terdiri dari :
1. Kesiapan yaitu
berhubungan dengan kesediaan untuk melatih diri tentang keterampilan tertentu
yang dinyatakan dengan usaha untuk melaporkan kehadirannya, mempersiapkan alat,
menyesuaikan diri dengan situasi, menjawab pertanyaan.
2.
Meniru adalah kemampuan
untuk melakukan sesuai dengan contoh yang diamatinya walaupun belum mengerti
hakikat atau makna dari keterampilan itu.
Seperti anak yang baru belajar bahasa meniru kata-kata orang tanpa mengerti artinya.
Seperti anak yang baru belajar bahasa meniru kata-kata orang tanpa mengerti artinya.
3.
Membiasakan yaitu seseorang
dapat melakukan suatu keterampilan tanpa harus melihat contoh, sekalipun ia
belum dapat mengubah polanya.
4.
Adaptasi yaitu seseorang
sudah mampu melakukan modifikasi untuk disesuaikan dengan kebutuhan atau
situasi tempat keterampilan itu dilaksanakan.
5. Menciptakan
(origination)
di mana seseorang sudah mampu menciptakan sendiri suatu karya.
Langganan:
Postingan (Atom)
